Benarkah anak yang gendut itu sehat dan lucu serta menggemaskan

Jika kita punya anak kecil yang montok dan gendut dalam pikiran kita memang terlihat lucu, menggemaskan dan terlihat imut-imut. Tapi merujuk dari para ahli kesehatan dunia ataupun lokal, tubuh gendut bagi seorang anak tidak berarti selalu sehat. Bahkan katanya dapat memicu berbagai penyakit kendati anak-anak masih dalam usia balita. Kegemukan atau obesitas pada anak secara umum dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan secara keseluruhan. Obesitas adalah suatu gangguan status gizi lebih dengan berbagai derajat, mulai dari ringan, sedang, sampai berat badan umumnya berada di atas normal. Sebagai patokan kasar, berat badan normal diukur dari umur anak dikali dua, lalu ditambah delapan (ukuran kg). Di Indonesia, untuk kurun waktu sekarang ini masalah kegemukan belum menjadi masalah nasional.

“**//He.He..He, mungkin malah cenderung kurus kerempeng seperti cacingan dan mungkin masih banyak yang kelaparan akibat kurang makan”//**. !!**Apalagi dewasa ini di periode tahun ini masalah pangan di indonesia cenderung di suap oleh kran impor yang lebih kencang di banding Hasil produk pangan dalam negeri indonesia**!!.^—^^—Maklum! Wilayah dan Tanah di indonesia itu kecil dan sempit terutama lahan pertanian dan peternakan sudah banyak yang alih fungsi—^^^—^^— **//**

Namun berbeda di AS,atau negara-negara kaya minyak seperti arab saudi atau negara-negar di eropa barat seperti inggris atau jerman, kegemukan sudah hampir menjadi suatu  epidemi yang mengakibatkan berbagai masalah kesehatan serius. Tiga dari lima orang AS mengalami kelebihan berat badan. Para peneliti di Negeri Uncle Sam itu memperkirakan, anak-anak di AS kini akan menjadi generasi dengan tingkat harapan hidup lebih singkat, daripada orangtua mereka. Penyebab obesitas pada anak-anak di AS antara lain dikarenakan perusahaan makanan memperbesar porsi produksinyadan kebiasaan masyarakat mengonsumsi fast food atau makanan cepat saji. Sejak tahun 1977, kalori yang dikonsumsi orang AS naik sekitar 10 persen atau sekitar 200 kalori lebih setiap hari.

Sebelumnya AS disebut “Republik Alkohol”‘ karena mereka gemar minuman beralkohol untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Sekarang julukan itu mestinya berubah menjadi “‘Republik obesitas”‘. Semakin banyak dan murahnya makanan dituding pula sebagai penyebab obesitas. Ketika hasil panen membeludak, pasar pun dibanjiri makanan yang berharga murah. Orang lalu cenderung menambah porsi makannya. Melihat kecenderungan itu bukan tidak mungkin gaya hidup orang Indonesia sudah mulai terpengaruh jikalau bahan pangan murah meriah di dapatkan”sisi lain yg positif dengan mahalnya Harga bahan pangan”yang tidak terjangkau oleh masyarakat umum di indonesia. Karena itu pula suatu hari nanti, kita sangat mungkin bakal menghadapi masalah kegemukan nasional, terutama pada anak-anak. Penyebab obesitas adalah asupan makanan yang melebihi kebutuhan tubuh dan berlangsung dalam waktu lama. Penyebab lain yang secara tidak langsung berpengaruh, yakni keturunan atau genetik, endokrin (kelainan hormonal), dan eksternal atau pola makan yang tinggi kadar lemak dan kalorinya. Obesitas yang disebabkan faktor genetik, biasanya pada usia dini sudah banyak terbentuk sel lemak adipocytes. Sel lemak ini terbentuk karena asupan tinggi kalori sejak dalam kandungan sampai usia satu tahun. Secara umum angka kejadian obesitas lebih banyak di kota, dan pada keluarga dengan sosial ekonomi tinggi. Kalangan inilah yang biasanya sering mengonsumsi makanan tinggi kalori dan kaya lemak, misalnya makanan cepat saji itu tadi.

fast food Sebenarnya obesitas bukan penyakit. Namun, anak yang menderita obesitas dapat mengalami komplikasi gangguan jantung dan pembuluh darah pada usia dewasa. Akibat gesekan-gesekan pada tubuhnya, dapat terjadi lecet terutama di sekitar paha. Mereka juga dapat mengalami gangguan psikologis karena memiliki tubuh yang berbeda dengan bentuk tubuh temantemannya. Yang perlu diketahui juga, obesitas pada anak akan mempengaruhi “”kematangan tulang'”. Tulang anak-anak ini akan lebih cepat matang, sehingga tidak berkembang lagi. Akibatnya, dibanding anak lainnya, anak tersebut  akan lebih pendek. Kondisi obesitas yang terjadi semasa kanak-kanak tidak selalu menetap hingga ia tumbuh dewasa.

Kegemukan cenderung terbawa sampai dewasa bila dikarenakan faktor genetik, derajat obesitas yang berat, serta obesitas yang terjadi menjelang dewasa.

Menurut Profesor Ricardo Uauy, Ketua Public Health Nutrition di London School of Hygiene and Tropical Medicine, yang juga penyusun laporan tentang obesitas di kalangan anak-anak, mengajak berbagai pihak untuk merumuskan strategi global guna mengatasi melonjaknya angka anak-anak dengan obesitas di berbagai tempat di seluruh dunia.

“Kita menghadapi suatu epidemi di kelompok usia kanak-kanak. Sebelumnya kita menyangka obesitas merupakan problema orang dewasa, tapi kenyataannya juga mengancam anak-anak  dan tampaknya makin memburuk,” ucapnya.

Ia menjelaskan, Amerika Serikat merupakan negara dengan angka obesitas di kalangan anakanak yang paling parah, dengan prevalensi 30 persen di antara anak-anak usia 5 hingga 17 tahun, lonjakan angka juga terlihat di Eropa, Timur Tengah, serta kawasan Asia Pasifik. Sepuluh hingga 20 persen anak-anak di Eropa Utara cenderung kelebihan berat badan, sementara di Eropa selatan angka itu lebih tinggi, yakni 20-35 persen. Lebih lanjut ia mengatakan, problem kesehatan yang semula merupakan ciri khas negaranegara industri makan kalori tinggi, banyak dibantu alat-alat di dunia kerja, dan tingkat aktivitas fisik yang rendah itu kini juga menyebar ke negara-negara berkembang. Di Afrika Selatan, sekitar 25 persen gadis usia 13-19 mengalami kelebihan berat badan dan obesitas. Angka itu sudah mendekati jumlah yang sama dengan di AS.

gnedut a

Dalam suatu laporan, Prof Richardo dan rekan mengidentifikasi tren sosial yang menyebabkan gangguan tersebut dan meminta organisasi kesehatan dunia (WHO) membantu negara berkembang untuk menetapkan strategi guna melawan ancaman obesitas di kalangan anakanak. Ia mengungkapkan, strategi itu bisa mencakup peningkatan gizi ibu, mendorong pemberian ASI, mendorong sekolah untuk mengajarkan makan yang sehat kepada anak-anak, memberi informasi nutrisi yang jelas kepada konsumen, serta menyediakan arena bermain yang aman di lingkungan tempat tinggal. Obesitas meningkatkan risiko anak-anak untuk terkena diabetes tipe 2, serangan jantung, stroke, dan sejenis kanker tertentu.

“Strategi global berarti membuat anak-anak tetap aktif bergerak di sekolah dan di tempat bermain serta memastikan makanan yang diasup tak berlebihan karena tidak seimbang dengan aktivitas fisik mereka,” katanya.

Jadi sebaiknya mulai sekarang ubahlah mindset anda jika mempunyai anak yang gendut itu menggemaskan, lucu, imut-imut, sehat, tanda orang tua makmur, dll sebelum lepas kontrol hingga anak-anak menjadi kegemukan dan berpenyakitan. Jangan biasakan menyediakan makanan kurang sehat seperti Fast food (makanan cepat saji) akibat malas memasak buat keluarga anda seiring gaya hidup anda yang terdorong oleh budaya hidup instan, hingga maunya serba instan….instan sampai dengan penghasilan maunya serba instan agar cepat kayaraya secara instan. HEHEHE….

 gendut

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s